0838-3864-1442
cs@emasinaja.com
Emasinaja
Rakyat di Desa Nggak Pakai Dollar! Kata Presiden, Tapi Ini Faktanya

Rakyat di Desa Nggak Pakai Dollar! Kata Presiden, Tapi Ini Faktanya

Rakyat di desa nggak pakai dollar.” Kalimat seperti ini memang terdengar masuk akal. Faktanya, masyarakat desa memang bertransaksi pakai rupiah, bukan dolar Amerika. Belanja di warung pakai rupiah, bayar pupuk pakai rupiah, beli beras juga pakai rupiah.

Tapi masalahnya, ekonomi tidak bekerja sesederhana itu.

Walaupun rakyat desa tidak memegang dolar secara langsung, banyak kebutuhan sehari-hari mereka tetap dipengaruhi nilai tukar dollar terhadap rupiah.

Kenapa bisa begitu?

Karena Indonesia masih mengimpor banyak bahan penting dari luar negeri. Contohnya seperti:

  • Gandum
  • Kedelai
  • Pupuk
  • Bahan pakan ternak
  • BBM dan turunannya
  • Mesin pertanian serta sparepart

Semua transaksi impor itu umumnya menggunakan dollar.

Artinya, ketika dollar naik dan rupiah melemah, biaya impor ikut naik. Akibatnya harga barang di dalam negeri perlahan ikut terdorong naik juga.

Contohnya sederhana.

Tempe yang dimakan masyarakat desa berasal dari kedelai. Masalahnya, sebagian besar kedelai Indonesia masih impor. Saat dollar naik, harga kedelai ikut naik. Ujungnya harga tempe naik.

Hal yang sama juga bisa terjadi pada:

  • Harga pupuk
  • Harga pakan ayam
  • Harga roti dan mie berbahan gandum
  • Ongkos transportasi
  • Harga kebutuhan pokok lainnya

Jadi walaupun dampaknya tidak langsung terasa seperti trader valuta asing atau importir besar, rakyat desa tetap menerima efek akhirnya melalui kenaikan harga barang sehari-hari.

Ibaratnya, masyarakat desa memang tidak bermain di pasar dollar, tapi mereka tetap berada di dalam sistem ekonomi yang terhubung dengan dollar.

Karena itu, nilai tukar rupiah tetap penting dijaga. Sebab ketika rupiah melemah terlalu jauh, yang paling terasa justru biasanya kebutuhan pokok makin mahal.

Jadi benar, rakyat desa tidak memakai dollar untuk transaksi sehari-hari. Tapi mengatakan rakyat desa tidak terdampak dollar juga kurang tepat. Karena pada akhirnya, kenaikan biaya impor akan merembet ke harga barang yang dipakai semua orang — termasuk masyarakat desa.