Nilai tukar dollar Amerika Serikat kembali menguat terhadap rupiah dan sempat menyentuh level Rp17.777 pada Mei 2026. Pelemahan rupiah ini menjadi sorotan karena berdampak langsung pada harga barang, biaya hidup, hingga kondisi ekonomi masyarakat Indonesia. Bank Indonesia bahkan menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang semakin besar.
Kenaikan dollar biasanya terjadi ketika investor global lebih memilih menyimpan aset dalam mata uang AS. Selain faktor suku bunga Amerika Serikat, kondisi geopolitik dunia dan ketidakpastian ekonomi global juga ikut membuat dollar semakin kuat. Akibatnya, rupiah melemah dan masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli produk atau layanan berbasis dollar.
Dampak paling terasa bagi warga Indonesia adalah naiknya harga barang impor. Produk elektronik seperti iPhone, laptop, sparepart kendaraan, hingga obat-obatan impor berpotensi mengalami kenaikan harga karena pembayaran menggunakan dollar AS. Selain itu, biaya langganan digital seperti server, cloud hosting, software luar negeri, dan layanan AI juga bisa ikut meningkat bagi pelaku usaha maupun freelancer digital.
Kenaikan dollar juga dapat memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari. Indonesia masih mengimpor beberapa bahan baku dan energi dari luar negeri. Ketika kurs dollar naik, biaya impor menjadi lebih mahal dan berpotensi mendorong kenaikan harga BBM, logistik, hingga bahan pokok. Kondisi ini bisa membuat daya beli masyarakat semakin tertekan jika pendapatan tidak ikut naik.
Di sisi lain, harga emas biasanya ikut naik saat rupiah melemah. Banyak investor memilih emas sebagai aset aman ketika kondisi ekonomi tidak stabil. Karena itu, masyarakat yang memiliki investasi emas atau tabungan emas cenderung mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga tersebut.
Bagi masyarakat yang memiliki rencana ke luar negeri, pelemahan rupiah juga membuat biaya perjalanan semakin mahal. Tiket pesawat internasional, biaya kuliah luar negeri, hotel, hingga belanja produk luar menjadi lebih tinggi karena nilai tukar rupiah terhadap dollar melemah.
Meski begitu, ada juga pihak yang diuntungkan dari kenaikan dollar. Pelaku ekspor dan pekerja yang menerima penghasilan dalam mata uang asing bisa mendapatkan nilai tukar lebih besar saat dikonversi ke rupiah. Investor yang memiliki aset dollar atau crypto tertentu juga berpotensi memperoleh keuntungan dari penguatan mata uang AS.
Pada 25 Mei 2026, nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp17.700 per dollar AS dan sempat mencetak rekor pelemahan baru di level Rp17.777. Namun pada perdagangan sore hari, rupiah mulai menunjukkan penguatan dan bergerak ke level Rp17.748 per dollar AS. Meski mengalami rebound, kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup besar dan masyarakat perlu lebih bijak dalam mengatur keuangan, terutama dalam menghadapi potensi kenaikan harga di berbagai sektor.